Rabu, 18 Juni 2008

Sebuah Pelajaran yang Berarti


Sebuah Pelajaran Untuk Disampaikan

Namanya Ny. Thompson. Ia berdiri di depan ruang kelas 5 pada hari pertama tahun pengajaran, dan berbohong kepada murid-muridnya. Seperti kebanyakan pengajar, ia memandang ke seluruh murid dan berkata bahwa ia memperhatikan seluruh murid dengan adil. Tetapi hal itu tidak mungkin, karena di barisan depan, ada seorang anak yang duduk dengan menggelesot namanya Teddy Stoddard.

Ny. Thompson sudah mengawasi Teddy setahun sebelumnya dan ia memperhatikan bahwa dia tidak bisa bermain dengan baik dengan anak-anak yang lain karena bajunya morat marit dan terlihat selalu perlu untuk dimandikan. Dan Teddy bisa jadi tidak suka. Itu semua mendapat penilaian, dimana Ny.Thompson kenyataannya akan memberikan tanda khusus di laporan Teddy dengan tinta merah besar, membuat X tebal dan memberi tanda F besar di atas kertas laporan Teddy.

Di sekolah tempat Ny.Thompson mengajar, ia diminta untuk melihat ulang catatan murid-muridnya di tahun sebelumnya, dan ia membiarkan cacatan Teddy di giliran terakhir. Saat membaca catatan Teddy ia terkejut.

Guru kelas satu Teddy menulis,Teddy adalah anak yang cemerlang dan ceria. Ia mengerjakan perkerjaannya dengan rapi dan memiliki hal-hal yang baik. Ia membawa kegembiraan bagi sekitarnya.

Guru kelas duanya menulis, Teddy adalah murid yang sempurna, sangat disukai oleh seluruh temannya, tetapi ia terganggu karena ibunya sakit stroke dan untuk tinggal di rumah adalah suatu perjuangan bagi Teddy.

Guru kelas tiganya menulis, Ia mendengar kematian ibunya. Ia berusaha untuk melakukan yang terbaik, tetapi ayahnya tidak menunjukkan ketertarikannya dan kehidupan di rumah akan segera mempengaruhinya jika tidak ada langkah-langkah yang dilakukan.

Guru kelas empat Teddy menulis, Teddy menjadi mundur dan tidak tertarik ke sekolah. Ia tidak punya banyak teman dan terkadang tertidur di kelas.

Setelah itu, Ny. Thompson menyadari masalahnya dan dia malu terhadap dirinya sendiri. Ia merasa tidak enak ketika murid-muridnya membawa hadiah natal, dibungkus dengan pita-pita yang indah dan kertas yang menyala, kecuali pemberian Teddy.

Hadiah dari Teddy kumal bentuknya dan dibungkus dengan kertas coklat yang diambil dari tas belanja. Ny.Thompson dengan terharu membuka kado Tedy ditengah-tengah kado yang lain. Anak-anak mulai tertawa saat ia menemukan gelang batu dimana beberapa batunya hilang, dan sebuah botol yang berisi parfum setengahnya.Tetapi ia menyuruh murid-muridnya diam dan menyatakan bahwa gelang pemberian Teddy sangat indah, serta mengoleskan parfum di pergelangan tangannya. Setelah sekolah usai, Teddy Stoddard tetap tinggal, menunggu cukup lama untuk mengatakan, Ny. Thompson, hari ini bau wangi anda seperti ibu saya.

Setelah murid-muridnya pergi, Ny.Thompson menangis hampir selama satu jam. Hari berikutnya Ny.Thompson berhenti untuk mengajar membaca, menulis dan aritmatika. Sebagai gantinya ia mulai mengajar anak didiknya.Ny. Thompson memberi perhatian khusus kapada Teddy. Selama bekerja dengannya, pikiran Teddy mulai hidup. Semakin ia mendorong Teddy, semakin cepat Teddy memberikan tanggapan.Di akhir tahun, Teddy menjadi anak terpandai di kelas, akan tetapi Ny. Thompson jadi berbohong dengan mengatakan bahwa ia akan memperhatikan murid-muridnya secara adil, karena Teddy telah menjadi murid kesayangannya.

Satu tahun berlalu, Ny. Thompson menemukan sebuah surat dibawah pintu, dari Teddy, yang mengatakan bahwa ia adalah guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Enam tahun berlalu sebelum ia menerima surat yang lain dari Teddy. Ia menulis sudah menamatkan SMU, ranking tiga di kelas, dan Ny.Thompson tetap guru terbaik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Empat tahun berikutnya, ia menerima surat yang lain, mengatakan bahwa saat orang memikirkan banyak hal, ia tetap tinggal di sekolah dan mempertahankannya, dan segera lulus dari akademi dengan penghargaan tertinggi. Dia meyakinkan Ny. Thompson, bahwa dia tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya.

Kemudian empat tahun berlalu dan surat yang lain datang lagi.Saat ini dia menjelaskan setelah menyelesaikan gelar sarjananya, dia memutuskan untuk melanjutkan sedikit lagi. Surat itu menjelaskan bahwa Ny. Thompson tetap guru yang disukai dan paling baik yang pernah dimiliki sepanjang hidupnya. Tetapi namanya telah sedikit lebih panjang surat ditandatangani oleh Theodore F. Stoddard, MD.

Kisahnya tidak berakhir disini. Masih ada surat lagi pada musin semi itu. Teddy berkata bahwa ia bertemu dengan seorang gadis dan merencanakan untuk menikah. Ia mengatakan bahwa ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu dan dia berharap Ny. Thompson bersedia duduk di kursi yang biasanya disediakan untuk ibu pengantin. Tentu saja Ny. Thompson bersedia.

Dan coba tebak apa berikutnya? Ny. Thompson mengenakan gelang batu dimana beberapa batunya telah hilang. Dan ia memastikan memakai parfum yang diingat Teddy dipakai ibunya pada Natal sebelumnya bersama-sama. Mereka berpelukan, dan Dr. Stoddard berbisik di telinga Ny. Thompson, Terima kasih Ny. Thompson, anda mempercayai saya. Terima kasih karena sudah membuat saya merasa begitu penting dan memperlihatkan bahwa saya dapat membuat perubahan. Ny. Thompson dengan air mata berlinang, balik berbisik. Ia berkata,Teddy, semua yang kamu katakan keliru. Kamu adalah orang yang telah mengajari bahwa aku dapat membuat perubahan. Aku sungguh-sungguh tidak tahu bagaimana caranya mengajar sampai bertemu denganmu.

=======================

Hangatkan hati seseorang hari ini. Tolong ingatlah bahwa kemana pun kamu pergi, apa pun yang kamu lakukan, kamu akan punya kesempatan untuk menyentuh atau merubah diri seseorang.Cobalah lakukan hal itu dengan cara yang positif. Teman adalah malaikat yang mengangkat kita ke atas kaki kita, saat sayap kita bermasalah untuk mengingat bagaimana caranya terbang.

Jumat, 13 Juni 2008

Racun yang Mematikan


Dahulu kala dinegeri Cina adalah seorang gadis bernama Li-li.

Ia baru menikah dan tinggal di rumah mertuanya.

Dalam waktu singkat ia tahu bahwa ia sangat tidak cocok tinggal serumah bersama ibu mertuanya, karakter mereka sangat jauh berbeda. Dan Li-li sangat tidak menyukai kebiasaan ibu mertuanya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan Li-li dan ibu mertuanya tidak pernah berhenti berdebat dan bertengkar. Yang paling Li-li kesal adalah adat kuno Cina yang mengharuskan ia harus selalu menundukkan kepala untuk menghormati mertuanya dan mentaati segala kemauannya. Semua kemarahan dan ketidak bahagiaan didalam rumah itu menyebabkan kesedihan yang mendalam pada hati suami Li-li yang berjiwa sederhana.

Akhirnya Li-li merasa tidak tahan lagi terhadap sifat buruk dan kelakuan ibu mertuanya dan ia benar-benar bertekad untuk melakukan sesuatu.

Li-li menjumpai seorang teman ayahnya seorang sinshe yang bernama Wang yang mempunyai Toko Obat Cina. Ia menceritakan semua situasinya dan minta dibuatkan ramuan racun yang kuat untuk diberikan kepada ibu mertuanya. Sinshe Wang berpikir keras sejenak lalu ia berkata:"Li-li,saya mau membantu kamu menyelesaikan masalahmu tapi kamu harus mendengarkan saya dan mentaati apa yang saya sarankan."

"Baik,saya akan mengikuti apa yang bapak katakan"

Sinshe Wang masuk kedalam dan tak lama ia kembali dengan menggenggam sebungkus ramuan. "Kamu tidak bisa memakai racun yang keras yang mematikan seketika untuk menyingkirkan mertuamu karena hal itu akan membuat semua orang curiga.Oleh karena itu saya memberi kamu ramuan beberapa jenis tanaman obat yang secara perlahan-lahan akan menjadi racun ditubuhnya."Sinshe Wang melanjutkan,"Setiap hari, sediakan makanan yang enak-enak dan masukan sedikit ramuan obat ini kedalamnya, lalu supaya tidak ada yang curiga saat ia akan mati, kamu harus hati-hati sekali dan bersikap sangat bersahabat dengannya, jangan berdebat dengannya, taati semua kehendaknya dan perlakuan dia seperti seorang ratu."

Li-li sangat senang. Ia berterimakasih kepada Sinshe Wang dan buru-buru pulang kerumah untuk melaksanakan niatnya membunuh sang ibu mertua. Minggu demi minggu bulan demi bulan berganti, setiap hari li-li melayani mertuanya dengan makanan yang enak-enak yang sudah "dibumbuinya".

Ia mengingat pesan sinshe Wang tentang mencegah kecurigaan, maka ia mulai belajar untuk mengendalikan amarahnya, mentaati perintah ibu mertuanya dan memperlakukannya seperti ibu kandungnya sendiri.

Setelah enam bulan berlalu, suasana di dalam rumah berubah drastis. Li-li sudah mampu mengendalikan amarahnya sedemikian rupa sehingga ia menemukan dirinya tidak lagi sering marah-marah atau kesal. Ia tidak pernah lagi berdebat dengan ibu mertuanya. Selama enam bulan terakhir ia mendapatkan ibu mertuanya kini lebih ramah padanya. Sikap sang ibu mertua terhadap Li-li telah berubah dan mulai mencintai Li-li seperti puterinya sendiri. Ia terus menceritakan kepada kawan-kawannya dan sanak familinya bahwa Li-li adalah menantu yang paling baik yang ia peroleh. Li-li dan ibu mertuanya saling memperlakukan satu sama lain seperti layaknya seorang ibu dan anak sesungguhnya. Suami Li-li sangat bahagia menyaksikan semua yang terjadi.

Suatu hari Li-li pergi menjumpai sinshe Wang dan meminta bantuannya sekali lagi.Ia berkata,"Pak Wang, tolong saya untuk mencegah supaya racun yang saya berikan kepada ibu mertua saya janagn sampai membunuhnya!"ia telah berubah menjadi seorang ibu yang begitu baik sehingga saya sangat mencintainya seperti ibu saya sendiri. Saya tidak mau ia mati karena racun yang saya berikan padanya.."

Sinshe Wang tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya:"Li-li,tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Saya tidak pernah memberi kamu racun. Ramuan yang saya berikan kepadamu hanyalah ramuan penguat badan untuk menjaga kesehatan beliau. Satu-satunya racun yang ada adalah yang terdapat didalam pikiranmu sendiri dan didalam sikapmu terhadapnya.."

"Tetapi semuanya telah disapu bersih dengan cinta yang kamu berikan kepadanya.."

===========================

Sadarkah anda bahwa sebagaimana anda memperlakukan orang lain maka demikianlah persis bagaimana mereka akan memperlakukan anda?


Ada pepatah Cina kuno berkata :"Orang yang mencintai orang lain akan dicintai juga sebagai balasannya."

Jumat, 06 Juni 2008

Catatan Harian Seorang Pramugari

Saya adalah seorang pramugari biasa dari China Airline, karena bergabung dengan perusahaan penerbangan hanya beberapa tahun dan tidak mempunyai pengalaman yang mengesankan, setiap hari hanya melayani penumpang dan melakukan pekerjaan yang monoton.Pada tanggal 7 Juni yang lalu saya menjumpai suatu pengalaman yangmembuat perubahan pandangan saya terhadap pekerjaan maupun hidup saya.
Hari ini jadwal perjalanan kami adalah dari Shanghai menuju Peking, penumpang sangat penuh pada hari ini.Diantara penumpang saya melihat seorang kakek dari desa, merangkul sebuah karung tua dan terlihat jelas sekali gaya desanya, pada saat itu saya yang berdiri dipintu pesawat menyambut penumpang kesan pertama dari pikiran saya ialah zaman sekarang sungguh sudah maju seorang dari desa sudah mempunyai uang untuk naik pesawat.
Ketika pesawat sudah terbang, kami mulai menyajikan minuman, ketika melewati baris ke 20, saya melihat kembali kakek tua tersebut, dia duduk dengan tegak dan kaku ditempat duduknya dengan memangku karung tua bagaikan patung.Kami menanyakannya mau minum apa, dengan terkejut dia melambaikan tangan menolak, kami hendak membantunya meletakan karung tua diatas bagasi tempat duduk juga ditolak olehnya, lalu kami membiarkannya duduk dengan tenang, menjelang pembagian makanan kami melihat dia duduk dengan tegang ditempat duduknya, kami menawarkan makanan juga ditolak olehnya. Akhirnya kepala pramugari dengan akrab bertanya kepadanya apakah dia sakit, dengan suara kecil dia mejawab bahwa dia hendak ke toilet tetapi dia takut apakah dipesawat boleh bergerak sembarangan, takut merusak barang didalam pesawat.Kami menjelaskan kepadanya bahwa dia boleh bergerak sesuka hatinya dan menyuruh seorang pramugara mengantar dia ke toilet, pada saat menyajikan minuman yang kedua kali, kami melihat dia melirik ke penumpang disebelahnya dan menelan ludah, dengan tidak menanyakannya kami meletakan segelas minuman teh dimeja dia, ternyata gerakan kami mengejutkannya, dengan terkejut dia mengatakan tidak usah, tidak usah,kami mengatakan engkau sudah haus minumlah, pada saat ini dengan spontan dari sakunya dikeluarkan segenggam uang logam yang disodorkan kepada kami, kami menjelaskan kepadanya minumannya gratis, dia tidak percaya, katanya saat dia dalam perjalanan menuju bandara, merasa haus dan meminta air kepada penjual makanan dipinggir jalan dia tidak diladeni malah diusir.
Pada saat itu kami mengetahui demi menghemat biaya perjalanan dari desa dia berjalan kaki sampai mendekati bandara baru naik mobil, karena uang yang dibawa sangat sedikit, hanya dapat meminta minunam kepada penjual makanan dipinggir jalan itupun kebanyakan ditolak dan dianggap sebagai pengemis.Setelah kami membujuk dia terakhir dia percaya dan duduk dengan tenang meminum secangkir teh, kami menawarkan makanan tetapi ditolak olehnya.Dia menceritakan bahwa dia mempunyai dua orang putra yang sangat baik,putra sulung sudah bekerja di kota dan yang bungsu sedang kuliah ditingkat tiga di Peking. anak sulung yang bekerja di kota menjemput kedua orang tuanya untuk tinggal bersama di kota tetapi kedua orang tua tersebut tidak biasa tinggal dikota akhirnya pindah kembali ke desa,sekali ini orang tua tersebut hendak menjenguk putra bungsunya diPeking, anak sulungnya tidak tega orang tua tersebut naik mobil begitu jauh, sehingga membeli tiket pesawat dan menawarkan menemani bapaknyabersama-sama ke Peking, tetapi ditolak olehnya karena dianggap terlalu boros dan tiket pesawat sangat mahal dia bersikeras dapat pergi sendiri akhirnya dengan terpaksa disetujui anaknya.Dengan merangkul sekarung penuh ubi kering yang disukai anak bungsunya,ketika melewati pemeriksaan keamanan dibandara, dia disuruh menitipkan karung tersebut ditempat bagasi tetapi dia bersikeras membawa sendiri, katanya jika ditaruh ditempat bagasi ubi tersebut akan hancur dan anaknya tidak suka makan ubi yang sudah hancur, akhirnya kami membujuknya meletakan karung tersebut di atas bagasi tempat duduk,akhirnya dia bersedia dengan hati-hati dia meletakan karung tersebut.Saat dalam penerbangan kami terus menambah minuman untuknya, dia selalu membalas dengan ucapan terima kasih yang tulus, tetapi dia tetap tidak mau makan, meskipun kami mengetahui sesungguhnya dia sudah sangat lapar,saat pesawat hendak mendarat dengan suara kecil dia menanyakan saya apakah ada kantongan kecil? dan meminta saya meletakan makanannya dikantong tersebut. Dia mengatakan bahwa dia belum pernah melihat makanan yang begitu enak, dia ingin membawa makanan tersebut untuk anaknya, kami semua sangat kaget.Menurut kami yang setiap hari melihat makanan yang begitu biasa dimata seorang desa menjadi begitu berharga.Dengan menahan lapar disisihkan makanan tersebut demi anaknya, dengan terharu kami mengumpulkan makanan yang masih tersisa yang belum kami bagikan kepada penumpang ditaruh didalam suatu kantongan yang akan kami berikan kepada kakek tersebut, tetapi diluar dugaan dia menolak pemberian kami, dia hanya menghendaki bagian dia yang belum dimakan tidak menghendaki yang bukan miliknya sendiri, perbuatan yang tulus tersebut benar-benar membuat saya terharu dan menjadi pelajaran berharga bagi saya.Sebenarnya kami menganggap semua hal tersebut sudah berlalu, tetapi siapa menduga pada saat semua penumpang sudah turun dari pesawat, dia yang terakhir berada di pesawat. Kami membantunya keluar dari pintu pesawat, sebelum keluar dia melakukan sesuatu hal yang sangat tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya, yaitu dia berlutut dan menyembah kami,mengucapkan terima kasih dengan bertubi-tubi, dia mengatakan bahwa kami semua adalah orang yang paling baik yang dijumpai, kami di desa hanya makan sehari sekali dan tidak pernah meminum air yang begitu manis dan makanan yang begitu enak, hari ini kalian tidak memandang hina terhadap saya dan meladeni saya dengan sangat baik, saya tidak tahu bagaimana mengucapkan terima kasih kepada kalian. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian, dengan menyembah dan menangis dia mengucapkan perkataannya. Kami semua dengan terharu memapahnya dan menyuruh seseorang anggota yang bekerja dilapangan membantunya keluar dari lapangan terbang.
Selama 5tahun bekerja sebagai pramugari, beragam-ragam penumpang sudah saya jumpai, yang banyak tingkah, yang cerewet dan lain-lain, tetapi belum pernah menjumpai orang yang menyembah kami, kami hanya menjalankan tugas kami dengan rutin dan tidak ada keistimewaan yang kami berikan, hanya menyajikan minuman dan makanan, tetapi kakek tua yang berumur 70 tahun tersebut sampai menyembah kami mengucapkan terima kasih, sambil merangkul karung tua yang berisi ubi kering dan menahan lapar menyisihkan makanannya untuk anak tercinta, dan tidak bersedia menerima makanan yang bukan bagiannya, perbuatan tersebut membuat saya sangat terharu dan menjadi pengalaman yang sangat berharga buat saya dimasa datang yaitu jangan memandang orang dari penampilan luar tetapi harus tetap menghargai setiap orang dan mensyukuri apa yang kita dapat.
Bersyukurlah senantiasa atas apa yang kamu dapat hari ini. Karena Tuhan membuat apa yang ada pada hari ini demikian indahnya untuk bisa kita nikmati dan syukuri. God bless

Kamis, 21 Februari 2008

Botol Acar

Sejauh sepengingatanku, botol acar terletak di lantai bersebelahan dengan lemari pakaian di kamar tidur orang tuaku. Apabila papa hendak tidur, dia akan mengosongkan isi kantongnya dan menjatuhkan semua uang recehnya ke dalam botol itu. Ketika koin-koin itu jatuh ke dalam botol yang masih kosong, mereka akan berbunyi sangat nyaring. Kemudian bunyinya perlahan akan melemah ketika botol telah terisi. Aku selalu jongkok di lantai di depan botol acar itu dan mengagumi bulatan tembaga dan perak yang berkilauan ketika matahari masuk melalui jendela seperti sebuah harta karun. Pada saat botol itu sudah terisi penuh, papa akan duduk di meja dapur dan memutar koin-koin itu sebelum dibawa ke bank.
Membawa koin ke bank selalu merupakan pekerjaan besar. Tertumpuk rapi di sebuah kotak kecil, uang-uang itu diletakkan diantara kursi papa dan kursiku di truk tuanya.
Setiap saat selama kami menuju ke bank, papa akan memandang penuh harap kepadaku. "Koin-koin itu akan membawamu jauh dari pabrik textile ini, Nak. Kamu akan lebih baik dari pada aku. Kota dengan pabrik tua ini tidak akan bisa menahanmu." Dan juga, setiap saat ketika dia membawa kotak yang berisi uang logam tersebut melewati counter menuju teller, dia akan tersenyum dengan bangga.
"Ini adalah uang untuk biaya sekolah anakku. Dia tidak akan mengabdikan hidupnya di pabrik ini seperti aku."
Kamipun selalu merayakan setiap tabungan dengan membeli es krim. Aku selalu membeli rasa coklat dan papa selalu rasa vanilla. Ketika kasir di tempat es krim memberi kembalian kepada papa, dia akan menunjukkan kepadaku koin-koin yang ada di telapak tangannya. "Begitu kita tiba di rumah, kita akan mulai mengisi botol lagi."
Dia selalu membiarkanku menjatuhkan koin pertama kedalam botol yang kosong. Pada saat koin-koin itu bergemerincingan dengan gembiranya di botol, kamipun saling tersenyum. "Kamu akan kuliah dari setiap 1 sen, 5 sen, 10 sen dan 25 sen ini", katanya. "Tapi kamu pasti berkuliah. Saya dapat melihatnya." Tahun-tahun berganti dan aku menyelesaikan kuliah kemudian bekerja di kota lain. Suatu kali, ketika mengunjungi orang tuaku, aku memakai telepon yang ada di kamar mereka dan memperhatikan bahwa botol acar itu sudah tidak ada lagi. Botol itu sudah berubah fungsi ke fungsi dasarnya dan telah dipindahkan. Perasaanku tersumbat pada tenggorokanku pada saat aku melihat tempat kosong di sebelah lemari pakaian, tempat dimana botol acar itu selalu berada.
Papa adalah seorang yang sangat jarang bicara dan tidak pernah mengajariku mengenai harga kebulatan tekad, ketekunan dan keyakinan. Dengan botol acar inilah dia menunjukkan perbuatan-perbuatan baiknya itu, ini lebih berharga dibandingkan kata-kata yang muluk-muluk. Ketika aku menikah, aku menceritakan kepada isteriku mengenai botol acar yang tidak berharga yang mempunyai peranan penting saat aku masih muda. Dalam pikiranku, itu membuktikan lebih dari apapun betapa papa sangat mencintaiku. Tidak peduli bagaimana beratnya keadaan di rumah, papa terus menetapkan hati untuk menjatuhkan koin ke dalam botol. Bahkan ketika papa dipecat dari pabrik dan mama hanya menyajikan biji-bijian yang dikeringkan beberapa hari dalam seminggu, tidak pernah sesen pun diambil dari botol. Sebaliknya, saat papa memandangiku diseberang meja, dia menjadi semakin meyakinkan dirinya untuk menemukan jalan keluar bagiku.
"Ketika kamu sudah lulus kuliah Nak," dia berkata padaku dengan mata yang berkaca-kaca, "Kamu tidak akan pernah makan biji-bijian lagi.. kecuali kalau kamu memang menginginkannya".
Natal pertama setelah anak kami, Jessica lahir, kami menghabiskan liburan bersama orang tuaku. Setelah makan malam, mama dan papa duduk berdampingan di sofa, mengemong cucu pertama mereka. Jessica mulai merengek pelan dan Susan mengambilnya dari tangan papa. "Mungkin popoknya harus diganti." katanya, menggendong Jessica ke kamar orangtuaku untuk mengganti popok. Ketika Susan kembali ke ruang keluarga, ada pandangan aneh di matanya. Dia memberikan Jessica kembali kepada papa sebelum menarik tanganku dan membawaku ke kamar. "Lihat", dia berkata lirih, matanya menuntunku melihat ke lantai di sebelah lemari pakaian. Sangat menakjubkan, disana, seperti tidak pernah dipindahkan, berdiri botol acar tua, di dasarnya sudah dipenuhi dengan koin-koin. Aku mendekati botol acar tersebut, merogoh isi kantongku dan menarik segenggam penuh koin. Dengan penuh perasaan, kujatuhkan koin-koin itu kedalam botol acar.
Aku mengangkat pandangan dan melihat papa menggendong Jessica masuk perlahan ke dalam kamar. Kami beradu pandangan, dan aku tahu dia merasakan perasaan yang sama denganku. Tidak ada satupun dari kami yang mampu bicara. Ini sangat menyentuh hatiku...
Aku tahu ini juga menyentuh hatimu. Terkadang kita terlalu sibuk menambah daftar penderitaan kita sehingga lupa menghitung berkat-berkat kita. Penderitaan selalu membawa kita melihat ke belakang. Kekhawatiran mengintai di sekeliling kita. Iman selalu membawa kita kepada PENGHARAPAN.

Sang Pelindung Sungai




Takhyul adalah cara yang digunakan orang untuk merasionalisasikan hal yang tidak diketahui.


Pada jaman dahulu, orang percaya bahwa segala sesuatu memiliki pelindung. Kepercayaan tersebut sering dimanipulasi oleh orang jahat demi keuntungan mereka sendiri. Peristiwa yang menarik ini terjadi pada masa perang antar negara bagian.


Suatu ketika, seorang walikota yang baru saja dilantik bernama Shiman Bau tiba di kediamannya dan dengan ramah mengundang beberapa sesepuh ke kantornya. Dengan sopan ia meminta saran-saran mereka mengenai urusan-urusan setempat.


"Tuan, ada satu hal yang khususnya merisaukan kami", salah seorang sesepuh berucap dengan penuh kekhawatiran. "Setiap tahun, pemerintah kota mengharuskan kita untuk membayar pajak khusus untuk pernikahan pelindung sungai. Ribuan uang telah terkumpul, namun mereka menggunakan kurang dari 10% dari uang itu untuk praktek yang aneh tersebut. Sisanya dibagi diantara beberapa pejabat dan dukun. Yang lebih buruk lagi,beberapa bulan sebelum upacaranya, mereka menangkap beberapa gadis cantik sebagai "pengantin perempuan" bagi sang pelindung sungai. Pada hari 'pernikahan' itu, para pengantin perempuan yang malang itu didandani dan ditempatkan pada sebuah ranjang kayu di sungai. Mereka tenggelam sampai ke dasar dan tidak pernah muncul lagi. Bukan hanya itu,para dukun tersebut mengancam bahwa jika kita tidak menghormati adat ini,sang pelindung sungai akan marah dan air sungai akan meluap, sehingga banyak orang akan tenggelam dan ladang-ladang akan rusak. Para pejabat setempat berada di pihak para dukun itu, melindungi mereka. Apa yang dapat kita lakukan?".


"Adat yang menarik," kata sang walikota. "Saya terpesona. Saya ingin melihatnya sendiri. Lain kali, tolong saya diberitahu. Saya pribadi akan menghadiri upacara itu".


Para sesepuh itu terkejut. Setelah berbincang-bincang tentang beberapa masalah sepele lainnya yang juga penting, dengan gembira walikota itu mengantar mereka keluar dari kantornya.


Orang-orang tua itu bingung,mereka tidak tahu apakah mereka harus memuji atau mengutuk walikota ini,yang tampak sangat tulus mendengarkan keluhan namun tidak menawarkan jalan keluar, bahkan tidak memberikan ucapan yang menenangkan mereka.Akhirnya mereka setuju bahwa walikota baru ini menginginkan bagian darik euntungan itu dan tidak akan melakukan apa-apa untuk menghentikan adat tersebut.


Beberapa bulan kemudian walikota itu diundang sebagai tamu kehormatan pada festival pelindung sungai. Dengan sukacita ia menerimanya. Ribuan orang yang penasaran berkerumun di tepi sungai. Banyak pejabat pemerintah yang juga hadir.Sambil mengamati seorang dukun wanita berpakaian aneh, yang dikelilingi oleh beberapa asistennya, walikota itu dengan sopan membungkuk ke arahnya dan kemudian secara sambil lalu meneliti para pengantin perempuan yang ketakutan.Setelah inspeksi singkat ia berbalik dan berteriak kepada si dukun dalam nada jijik.


"Apakah kamu gila? Dimana matamu? Tidak bisakah kamu melihat bahwa gadis-gadis ini buruk rupa? Mempersembahkan gadis-gadis desa yang menjijikkan ini akan menjengkelkan pelindung sungai kita yang maha besar! Kita harus menunda upacara ini selama beberapa hari sampai kita dapat menemukan beberapa gadis cantik yang sesuai".


Karena belum pernah mendengar kecaman sekeras ini sebelumnya, semua orang terbengong dan terdiam seribu bahasa. Dengan menatap penuh ancaman, sang walikota meminta kepada dukun itu untuk memberitahu si pelindung sungai mengenai penundaan tersebut.Dengan segera para pengawal walikota menangkap si dukun dan meletakkannya di atas ranjang di sungai itu, yang langsung tenggelam.


Walikota itu menunggu selama beberapa menit, dan kemudian menyatakan"Sungguh seorang wanita yang beruntung! Sang pelindung sungai telah menjamunya dengan baik. Ia pasti mabuk dan kehilangan arahnya. Kita butuh seseorang untuk mencarinya." Ia lalu memerintahkan pengawalnya untuk memilih salah seorang pembantu senior dukun itu dan menceburkannya ke dalam sungai.


Setelah empat perlakuan serupa dilaksanakan, walikota itu menyatakan"Baiklah! Apa maunya mereka ini? Mengapa mereka tidak kembali? Mereka pasti adalah sekelompok pemabuk yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat dipercaya. Mungkin seorang laki-laki dapat melakukan tugas ini dengan lebih baik." Ia kemudian memerintahkan para pelayannya yang berotot untuk melemparkan beberapa pejabat pemerintah kedalam air.Setelah kepala mereka masuk ke dalam air untuk yang terakhir kalinya,walikota itu kembali menatap penuh cela kepada para pejabat lainnya yangterlibat, yang tampak sangat ketakutan sehingga mereka segera berlutut dan memohon ampun.


Sambil tersenyum dingin, ia memeriksa mereka dengan teliti dan dengan tenang meninggalkan tempat itu.


Sejak hari itu, tidak ada seorang pun yang berani menyinggung tentang upacara itu lagi, dan masalah pajak itu dengan sendirinya terlupakan.Para warga setempat bergembira atas sikap cerdik walikota mereka.